▴Klik Disini untuk Daftar PPDB Online▴ - MISADA MENUTUP AKHIRUSSANAH DENGAN WISUDA KHOTMIL QUR’AN: MADRASAH YANG KONSISTEN MENCETAK GENERASI
- Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-78 Tahun 2023 MI Sa\'adatuddarain
- Gelaran Agustusan Misada Penuh Kemeriahan
- Rapat Kepala Madrasah Ibtidaiyah KKMI PCC dan Sosialisasi KOM 2023
- Puisi Tanah Sajadah
- Puncak Syiar Ramadhan Misada 1444 H/2023 M
- KEISTIMEWAAN MAKAN SAHUR
- Siswi Misada Berhasil Masuk Final Olimpiade Matematika Tingkat Nasional
- Puasa dan Pesan tentang Kesederhanaan
- Tiga Tingkatan Orang Berpuasa
Integrasi dan Interkoneksi dalam Pergulatan Pendidikan Madrasah
Opini Misada
.png)
Gambar : Fani Ruusul Masail (Penulis)
Teringat dengan sosok ilmuwan muslim dari alumnus Ponpes Gontor yang menjadi Guru besar UIN Sunan Kalijaga yaitu Prof. Amin Abdulloh. Istilah tersebut digagas oleh beliau sekitar 2 dekade’an kebelakang berdasarkan problematika Pendidikan di Indonesia. Penulis juga ingin mengingatkan kembali pentingnya konsep dan strategi pendidikan.
Integrasi adalah upaya memadukan ilmu umum dan ilmu agama (Islam). Integrasi ini dalam pandangan Amin Abdullah akan mengalami kesulitan dalam memadukan studi Islam dan umum yang kadang tidak saling akur karena keduanya ingin saling mengalahkan, oleh karena itu diperlukan adanya gagasan Interkoneksi.
Interkoneksi sendiri adalah upaya memahami komplesitas fenomena kehidupan yang dijalani manusia, setiap pondasi dan bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama, sosial, humaniora, maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri tanpa kooperatif, saling membutuhkan, saling melengkapi, saling koreksi, dan saling tegur sapa juga berhubungan antar disiplin ilmu. Pendekatan ini adalah pendekatan yang saling menghargai, bahwa ilmu umum dan agama sadar akan keterbatasannya dalam menjawab segala macam problem kehidupan, hal inilah yang akan melahirkan Kerjasama, saling memahami pendekatan (approach) metode berfikir (process and procedure) antar kedua keilmuan tersebut.
Dewasa ini, perlu memahami lebih utuh konsep tersebut guna mempermudah dalam hal implementasi. Madrasah merupakan suatu pondasi Pendidikan Indonesia, sebab madrasah merupakan pendidikan pertama yang ada di Indonesia dibawah naungan Ponpes yang notabene basicly Pendidikan yang dimulai dari pra kemerdekaan. Maka seyogyanya Madrasah mampuh beraksi berkali-kali lipat produktifitasnya dari pendidikan umum, mengapa…? Pendidikan Madrasah yang saat ini dibawah naungan Kementrian Agama, mulai dari tingkat MI, MTs, MA adalah Pendidikan formal yang memberikan media keilmuan agama dan keilmuan umum. Maka bekal keilmuan agama dan umum adalah potensi besar yang perlu ditangkap dan dikembangkan Madrasah untuk mencetak Generasi para Ilmuwan Muslim Indonesia.
Melihat dari data EMIS-Kemenag yang diolah Bang Imam Berbagi per Mei 2022, jumlah madrasah saat ini sebanyak 82.418, yang terdiri dari 4.010 madrasah negeri milik pemerintah dan 78.408 milik masyarakat atau yayasan, dengan jumlah siswa sekitar 9 juta’an. Jumlah yang besar ini adalah jumlah calon nation success agency dalam membangun negara.
Mersepons hal ini, dari sisi kebijakan, Pemerintah dalam hal ini Kemenag yang menaungi Pendidikan madrasah agar lebih cepat mengintegrasikan instrument yang ada dalam sistem madrasah, misalnya platform digitalisasi yang efesien dan efektif, tidak membebani Madrasah dengan kerja admistratif yang pada akhirnya menganggu tugas madrasah dalam kegiatan mendidik, apalagi menimbulkan potensi KKN ditubuh Kemenag Kota/Wilayah yang dirasa sangat a-moral ini, tetapi sedari awal praktik ini sudah lumrah dilakukan untuk memudahkan kepentingan-kepentingan oknum dari sisi administrasi belum dari segi lainnya. Sebab praktik integrasi-interkoneksi harus dapat dimaknai secara value bukan secara harfiah semata, apalagi Pejabat dan seluruh Abdi Negara yang ada dalam Kemenag berasal dari lintas agama yang mempunyai dasar nilai mulia, sepatutnya menjadi pelopor budaya bersih, budaya cepat, budaya cerdas, budaya kreatif dan inovatif. Kita melihat progress saat ini sudah mendingan, namun masih banyak menyisakan problem yang menjadi kendala madrasah.
Kemudian, dari sisi madrasah, madrasah harus ada awarenesse, bahwa diera pra society 5.0 merupakan sebuah era internet of things, digitalisasi tak bisa dihindari, artinya pembekalan terkait penggunaaan media digital adalah basic para pejuang (tenaga pendidik) madrasah. Sebab media digital saat ini ditengah pandemi masih menjadi alternatif bahkan media pokok PJJ (pembelajaran jarak jauh). Namun para pejuang madrasah tidak hanya menggunakan digitalisasi secara fisik semata, lebih-lebih harus memaksimalkan serta memberikan jamuan materi secara continue tentang nilai dengan wujud ahlaq, bagaimanapun dan apapun itu platform digital bagaikan dua sisi mata uang, maka perlu lebih cerdas menggunakannya dan memberikan teladan terbaik untuk siswa. Ada sedikit wejangan dari tokoh muslim dunia yaitu Iman Jarnuzi pakar Pendidikan pada masa dinasti Abassyiah (750-1258 M) mengatakan “Afdholu Ilmi,Ilmu hal, wa afdhollu hal, khifdu hal” yang artinya lebih utama ilmu adalah ilmu ahlaq, dan lebih utamanya ahlaq adalah mampu menjaga ahlaq dengan baik.
Selanjutnya implementasi integrative-interkonektif dilakukan degan cara filosofis, yaitu membuat forum-forum ilmiah secara simultan antar guru multidisplin keilmuan dalam rangka mencari titik kesamaan, perbedaan, dan benang merah yang dapat ditarik guna menjadikan pedoman dalam menerapkan kepada siswa, misalnya ilmu matematika dengan SKI sejarah kebudayaan Islam yang sebenarnya perlu dianalisa lebih dalam lagi, karena ada suatu hal yang bisa diambil relasi dari kedua cabang keilmuan tersebut ialah embrio matematika itu dari mana jawabanya adalah tokoh muslim zaman dinasti Abasyiah seperti al-Khwarizmi,lalu dicari biografinya, perjalanan keilmuanya, apa nilai yang terkandung dari ilmu hitung tersebut jawabanya adalah kembali kepada yang maha esa yaitu Alloh Swt Tuhan yang maha esa. Inilah merupakan sebuah contoh kecil untuk kemudian dipraktikan oleh para pejuang madrasah sehingga value yang terkandung didalamnya dapat dipahami serta dipraktikan oleh siswa dengan harapan siswa dapat memahami khazanah kelimuan Islam yang telah melahirkan banyak cabang-cabang keilmuan lain. Walhasil jika hal ini diterapkan maka tidak mustahil generasi kita kedepan akan menjadi penerus ketokohan al-Khawarizmi, Jabbir ibn Khayan, Ibnu Sina dan lainnya, sehingga membuka pintu kejayaan peradaban muslim, dan Indonesia menjadi epicentrum kejayaan muslim tersebut. Sejalan dengan pendapat Pakar Tafsir Indonesia Prof. Quraish Shihab bahwa “haqiqat ilmu pengetahuan semua adalah sama, sama ilmu Alloh Swt Tuhan yang maha esa, artinya segala ilmu adalah instrument untuk menuju kebahagiaan manusia dunia dan akherat”.
Interkoneksi ini, mari kita fahami secara sederhana sebagai sebuah upaya seluas-luasnya koneksi keilmuan-keilmuan tersebut bisa dimaksimalkan dengan cara kreatifitas menggali keilmuan dimulai dari para guru-gurunya ditularkan pada para siswanya, wadah OSIS misalnya dimanfaatkan juga sebagai media produktif dalam hal keilmuan bukan hanya dalam hal pembelajaran skill, dan lokus-lokus lainya yang ada di madrasah. Selanjutnya secara teknis pengembangan, seluas-luasnya membangun Kerjasama keilmuan, Kerjasama pengembangan skill dan lainnya dengan pihak-pihak swasta maupun pemerintah, jangan membatasi diri,jangan pasif, dan jangan merasa madrasahnya sudah cukup dan paling maju, sebab itu adalah penyakit yang berbahaya.
Semoga dengan ikhtiar ini madrasah dapat menjadi bagian yang memberikan kontribusi untuk agama,bangsa, dan negara.Amien





